Proyek Halte Sungai di Desa Mesah Rokan Hilir Molor, Kontraktor Sebut Ada Kendala Teknis
Rokan Hilir – Proyek pembangunan halte sungai di Desa Mesah, Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan, Kabupaten Rokan Hilir, mengalami keterlambatan penyelesaian. Proyek yang dikelola oleh Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Provinsi Riau dengan nomor kontrak PL 107/7/VIII/HS-Mesah/BPTD-RIAU/2024 dan nilai Rp 1.675.624.690,00 itu seharusnya rampung pada 10 Desember 2024, setelah dimulai pada 13 Agustus 2024. Namun, hingga kini, proyek yang dikerjakan oleh CV Tirta Persada masih belum selesai.
Tim Portal Buana News mencoba menghubungi kontraktor pelaksana, Weli, melalui pesan WhatsApp untuk meminta penjelasan terkait keterlambatan tersebut. Saat dikonfirmasi, Weli menyatakan bahwa ada pemindahan titik lokasi pengerjaan karena terjadi erosi di titik awal proyek, yang menyebabkan lahan yang sebelumnya daratan berubah menjadi perairan.
“Terjadi perubahan lokasi karena erosi, sehingga titik awal proyek sudah menjadi perairan,” ujar Weli.
Menurutnya, perpanjangan waktu pengerjaan sudah diberikan selama 50 hari dengan skema denda sebagai bentuk konsekuensi atas keterlambatan tersebut. Namun, ketika ditanya mengenai dokumen berita acara pemindahan lokasi, Weli mengaku tidak dapat memberikan data saat itu.
“Saya tidak punya datanya sekarang, Pak, karena saya di lapangan. Datanya ada di kantor saya satu, di balai satu,” kata Weli.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai konstruksi halte sungai, termasuk apakah tiang bangunan sudah dipasang, Weli memberikan jawaban yang mengundang tanda tanya.
“Tiangnya nggak pakai, Bang,” ungkapnya singkat.
Pernyataan ini tentu menimbulkan pertanyaan terkait standar konstruksi proyek yang menggunakan dana miliaran rupiah tersebut. Ketika dimintai pendapat soal dampak proyek ini bagi masyarakat Desa Mesah, Weli menegaskan bahwa pihaknya hanya mengikuti gambar kerja yang ada.
“Kita hanya mengikuti gambar kerja yang ada. Ini bukan kapasitas saya untuk menjawab. Tapi ya, bisa digunakan masyarakat Desa Mesah lah, Pak,” katanya.
Keterlambatan proyek ini menjadi sorotan publik, terutama terkait transparansi pelaksanaan dan kualitas konstruksi yang dikerjakan. Masyarakat Desa Mesah tentu berharap agar proyek halte sungai ini segera diselesaikan sesuai standar yang telah ditetapkan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
(Redaksi | Mukhlis )




Post a Comment