
Oleh : Keyza Salsabina
Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau
Sungai merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Selain menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, sungai juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Salah satu sungai yang memiliki peranan penting bagi masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi adalah Sungai Singingi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kondisi sungai ini mulai mengalami tekanan akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) merupakan kegiatan penambangan emas yang dilakukan tanpa izin resmi dari pemerintah dan umumnya tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Aktivitas ini banyak ditemukan di daerah yang memiliki potensi emas, termasuk di sepanjang aliran Sungai Singingi. Para penambang biasanya menggunakan mesin penyedot untuk mengambil material dari dasar sungai maupun dari daratan di sekitarnya. Material tersebut kemudian diproses untuk memisahkan emas dari pasir dan tanah.
Proses penambangan ini seringkali menyebabkan air sungai menjadi keruh karena banyaknya tanah dan pasir yang masuk ke dalam aliran air. Kekeruhan air dapat menghambat masuknya cahaya matahari ke dalam air, sehingga mengganggu proses fotosintesis organisme air seperti fitoplankton. Padahal organisme tersebut merupakan bagian penting dari rantai makanan di ekosistem perairan.
Selain meningkatkan kekeruhan, aktivitas PETI juga dapat mempengaruhi parameter kualitas air lainnya, seperti pH dan kadar oksigen terlarut. Perubahan pH dapat membuat kondisi air menjadi tidak ideal bagi organisme air. Sementara itu, kadar oksigen terlarut yang menurun dapat menyebabkan ikan dan organisme air lainnya mengalami kesulitan bernapas.
Dampak lain yang lebih berbahaya adalah penggunaan bahan kimia seperti merkuri dalam proses pengolahan emas. Merkuri digunakan untuk mengikat emas agar lebih mudah dipisahkan dari material lainnya. Namun, zat ini merupakan logam berat yang sangat beracun dan dapat mencemari perairan. Jika merkuri masuk ke dalam sungai, zat tersebut dapat terakumulasi di dalam tubuh organisme air seperti ikan. Ketika ikan tersebut dikonsumsi manusia, maka zat berbahaya tersebut juga dapat masuk ke dalam tubuh manusia.
Penurunan kualitas air Sungai Singingi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Banyak masyarakat yang masih memanfaatkan air sungai untuk berbagai keperluan, seperti mandi, mencuci, hingga kegiatan pertanian. Jika kualitas air terus menurun, maka risiko gangguan kesehatan dan kerusakan ekosistem akan semakin besar.
Oleh karena itu, upaya menjaga kualitas air Sungai Singingi menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah perlu meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas penambangan ilegal, sementara masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Sungai yang bersih dan sehat tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan saat ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.
0Comments