![]() |
| (sumber: Biorockindonesia) (oleh: Dhiya Ghina Putri) mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau. |
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Wilayah laut Indonesia berada di kawasan Coral Triangle yang sering disebut sebagai pusat biodiversitas laut global. Kawasan ini menyimpan sekitar 75% spesies karang dunia serta ribuan spesies ikan dan organisme laut lainnya yang hidup di ekosistem terumbu karang (Coral Triangle Initiative, 2024). Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah paling penting bagi kelestarian ekosistem laut dunia.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia memiliki sekitar 2,3 juta hektare ekosistem terumbu karang yang tersebar di berbagai wilayah pesisir dan kepulauan. Dari luas tersebut, sekitar 838 ribu hektare merupakan karang keras yang berperan sebagai struktur utama pembentuk terumbu karang (KKP, 2025). Jika dilihat secara global, Indonesia diperkirakan memiliki lebih dari 51.000 km² terumbu karang, menjadikannya salah satu negara dengan luas terumbu karang terbesar di dunia. Kekayaan ini tidak hanya memiliki nilai ekologis yang tinggi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat, terutama dalam sektor perikanan, pariwisata bahari, serta perlindungan wilayah pesisir dari abrasi dan gelombang laut.
Namun, di balik kekayaan tersebut, kondisi terumbu karang Indonesia saat ini menghadapi berbagai tekanan lingkungan yang semakin meningkat. Salah satu ancaman terbesar berasal dari perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan kondisi laut secara signifikan. Peningkatan suhu permukaan laut dalam beberapa dekade terakhir telah berdampak langsung terhadap kesehatan ekosistem karang di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Terumbu Karang
Salah satu dampak paling nyata dari perubahan iklim terhadap terumbu karang adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang dapat memicu fenomena coral bleaching atau pemutihan karang. Fenomena ini terjadi ketika suhu laut yang terlalu tinggi menyebabkan karang mengalami stres sehingga alga zooxanthellae yang hidup di jaringan karang keluar dari tubuh karang. Padahal alga tersebut berperan penting dalam menyediakan nutrisi bagi karang melalui proses fotosintesis. Ketika alga ini hilang, karang akan kehilangan sumber energi utamanya sehingga warnanya berubah menjadi putih dan kondisinya menjadi sangat rentan terhadap kematian apabila suhu laut tidak segera kembali normal.
Laporan terbaru dari International Coral Reef Initiative menunjukkan bahwa sejak tahun 2023 hingga 2025 dunia mengalami peristiwa pemutihan karang global terbesar yang pernah tercatat. Sekitar 84% terumbu karang di dunia telah terpapar gelombang panas laut yang cukup kuat untuk memicu pemutihan karang (ICRI, 2025). Peristiwa ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memberikan tekanan yang sangat besar terhadap ekosistem laut di berbagai wilayah dunia.
Selain peningkatan suhu laut, perubahan iklim juga menyebabkan pengasaman laut (ocean acidification). Fenomena ini terjadi ketika konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat dan sebagian gas tersebut diserap oleh laut. Akibatnya, tingkat keasaman air laut meningkat dan dapat mengganggu kemampuan karang dalam membentuk kerangka kalsium karbonat yang menjadi struktur utama terumbu karang. Kondisi ini membuat pertumbuhan karang menjadi lebih lambat serta meningkatkan kerentanan ekosistem karang terhadap kerusakan (Intergovernmental Panel on Climate Change, 2023).
Kondisi dan Upaya Perlindungan Terumbu Karang
Berdasarkan pemantauan nasional yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional, kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini masih sangat bervariasi. Data monitoring menunjukkan bahwa sekitar 30% terumbu karang berada dalam kondisi baik hingga sangat baik, sekitar 37% dalam kondisi sedang, dan sekitar 33% dalam kondisi rusak atau terdegradasi (BRIN, 2023). Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ekosistem terumbu karang masih menghadapi tekanan yang cukup besar sehingga memerlukan upaya perlindungan dan pengelolaan yang lebih intensif.
Beberapa kawasan konservasi laut di Indonesia masih memiliki kondisi terumbu karang yang relatif baik. Wilayah seperti Raja Ampat dan Wakatobi dikenal sebagai daerah dengan keanekaragaman karang yang sangat tinggi dan tingkat kesehatan ekosistem yang relatif terjaga. Hal ini tidak terlepas dari adanya kebijakan pengelolaan kawasan konservasi laut, pengawasan aktivitas manusia, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan laut.
Namun demikian, di banyak wilayah lain kondisi terumbu karang masih menghadapi tekanan dari aktivitas manusia. Beberapa faktor yang sering menjadi penyebab kerusakan karang antara lain penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan bom dan bahan kimia, pencemaran laut akibat limbah domestik maupun industri, serta sedimentasi yang berasal dari aktivitas pembangunan di wilayah pesisir. Aktivitas pariwisata yang tidak dikelola dengan baik juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap ekosistem karang, misalnya melalui kerusakan fisik akibat aktivitas penyelaman atau jangkar kapal.
Untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan terus memperkuat program konservasi laut sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan. Salah satu target yang dicanangkan adalah memperluas kawasan konservasi laut hingga 30% wilayah perairan Indonesia pada tahun 2045. Upaya ini diharapkan dapat melindungi berbagai ekosistem penting seperti terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove.
Oleh karena itu, menjaga kelestarian terumbu karang tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem laut, tetapi juga bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Upaya perlindungan lingkungan laut, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem pesisir menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa terumbu karang Indonesia tetap lestari di tengah tantangan perubahan iklim global.

0Comments