GENERASI MUDA SATU ATAP MEMBUKA PINTU KEBERSAMAAN MELALUI SENI DAN BUDAYA




Zal Doeri : Penulis


BUDAYA SERUMPUN — TIGA SUKU, SATU PANGGUNG, SATU KEBERSAMAAN


DURI — Ketika perbedaan sering dijadikan alasan untuk berjarak, Generasi Muda Satu Atap justru memilih membuka pintu kebersamaan melalui seni dan budaya.


Melalui Budaya Serumpun, tiga akar budaya—Sakai, Melayu, dan Minangkabaui—dipertemukan dalam satu panggung akbar. Bukan untuk mempertajam perbedaan, melainkan untuk merayakan keberagaman sebagai sebuah kekuatan.


Yang membuat perhelatan ini semakin bermakna, Budaya Serumpun mendapat dukungan dari Datuk dan Ninik Mamak dari ketiga suku tersebut—Sakai, Melayu, dan Minangkabau. Dukungan para pemangku adat ini menjadi sebuah pesan penting bahwa kebudayaan tidak hanya milik generasi masa lalu, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk terus dirawat, diwariskan, dan dihidupkan oleh generasi hari ini.


Dukungan tersebut juga datang dari berbagai suku yang hidup dan tumbuh di Kota Duri. Hal itu tidak berhenti sebagai dukungan secara lisan, tetapi dibuktikan melalui keikutsertaan dan partisipasi langsung dalam perhelatan Budaya Serumpun, dengan menampilkan seni, budaya, lagu, tradisi, serta identitas budaya masing-masing.


Dengan demikian, panggung Budaya Serumpun bukan hanya menjadi panggung bagi Sakai, Melayu, dan Minangkabau, tetapi juga menjadi ruang bersama bagi seluruh suku yang hidup berdampingan di Duri.


Event ini juga menghadirkan Festival Lagu Melayu dan Lagu Minangkabau, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk saling mengenal, menghargai, dan merayakan keberagaman yang selama ini hidup dalam satu tanah yang sama.


Dengan dukungan para pemuka masyarakat, Datuk dan Ninik Mamak, serta partisipasi berbagai suku yang ada di Kecamatan Mandau dan Kota Duri, Budaya Serumpun diharapkan menjadi momentum penting bagi Duri.


Sebuah pengingat bahwa seni dan budaya mampu menjadi jembatan terindah yang menyatukan manusia**—bukan sekadar tontonan yang selesai ketika panggung ditutup.


Pada 5, 6, 7, dan 8 November 2026, Gedung dan Halaman LAMR Kecamatan Mandau, Duri, akan menjadi ruang bertemunya beragam warna budaya dalam satu perayaan.


Karena Duri bukan milik satu suku.

Duri adalah rumah bagi keberagaman.


> Berbeda adat, satu tanah.

> Berbeda budaya, satu panggung.

> Berbeda suara, satu harmoni.


BUDAYA SERUMPUN — BERSAMA ITU DAMAI.



Also read
Copied!

Latest News

  • GENERASI MUDA SATU ATAP MEMBUKA PINTU KEBERSAMAAN MELALUI SENI DAN BUDAYA
  • GENERASI MUDA SATU ATAP MEMBUKA PINTU KEBERSAMAAN MELALUI SENI DAN BUDAYA
  • GENERASI MUDA SATU ATAP MEMBUKA PINTU KEBERSAMAAN MELALUI SENI DAN BUDAYA
  • GENERASI MUDA SATU ATAP MEMBUKA PINTU KEBERSAMAAN MELALUI SENI DAN BUDAYA
  • GENERASI MUDA SATU ATAP MEMBUKA PINTU KEBERSAMAAN MELALUI SENI DAN BUDAYA
  • GENERASI MUDA SATU ATAP MEMBUKA PINTU KEBERSAMAAN MELALUI SENI DAN BUDAYA

Post a Comment