Biologi untuk Dipahami dan Dihayati, Bukan Sekadar Dihafal: Telaah Filosofis atas Buku IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10



Oleh: Marsa Azkiah 26052807983

Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi, Universitas Riau


Identitas Buku


- Judul: IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10

- Penulis: Dr. Ramadhani Eka Putra dan Dr. Ida Kinasih, M.Si.

- Penerbit: Yrama Widya, Bandung

- Terbit: Cetakan pertama, Mei 2023

- Tebal: xiv + 282 halaman, 19 × 26 cm

- ISBN: 978-623-205-837-8 (jil. 1)


Mengapa Buku Teks Perlu Dibaca Secara Filosofis?


Buku teks memuat pandangan tentang apa itu kehidupan, bagaimana pengetahuan diperoleh, dan nilai apa yang ditanamkan. Firdaus (2025) menegaskan bahwa pendidikan biologi adalah humanisasi ilmu: mengajar biologi berarti mendidik manusia melalui ilmu. Ia memakai tiga lensa, yaitu ontologi (hakikat kehidupan), epistemologi (cara pengetahuan dibangun), dan aksiologi (nilai dan tanggung jawab etis).


Gambaran Isi


Buku ini disusun berdasarkan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka sebagai buku teks pendamping, dengan lima bab: keragaman kehidupan, virus, biologi dan peradaban manusia, makhluk hidup dan lingkungannya, serta perubahan dan pelestarian lingkungan. Setiap bab memuat peta konsep, pertanyaan pemantik, kegiatan, DigiLitera berkode QR, latihan bertingkat (pemahaman, HOTS, berpikir kritis), tugas projek, dan asesmen lima bentuk soal.


Bab 3 menguraikan sejarah dan cabang biologi, bioteknologi konvensional dan modern, serta biomimikri. Bab 4 membahas ekosistem, interaksi antarkomponen, aliran energi, dan bioremediasi. Bab 5 membahas penyebab perubahan lingkungan, pencemaran, perubahan iklim, serta adaptasi dan mitigasi.


Telaah Ontologis: Kehidupan sebagai Jejaring


Firdaus (2025) menyebut kehidupan sebagai sistem berjenjang dari molekul hingga ekosistem. Bab 4 sejalan dengan itu: materi bergerak dari individu hingga biosfer, dan peta konsepnya menghubungkan komponen biotik-abiotik, interaksi, aliran energi, dan daur biogeokimia.


Pertanyaan pemantik seperti "apa yang terjadi jika salah satu komponen hilang?" mendorong berpikir sistemik. Namun Latihan 4.1 nomor 6 (hlm. 192-193) meminta siswa menjelaskan mengapa tumbuhan hijau selalu ada di semua ekosistem. Premis ini perlu dicermati, karena ekosistem di sekitar ventilasi hidrotermal laut dalam bertumpu pada produsen kemosintetik. Generalisasi demikian berisiko menyederhanakan gambaran tentang kehidupan.


Telaah Epistemologis: Antara Inkuiri dan Hafalan


Kata pengantar menyebut discovery-inquiry learning, dan sebagian kegiatan memang mendukungnya, misalnya pembuatan yoghurt (Kegiatan 3.2) yang menanyakan faktor keberhasilan. Pendekatan konstruktivis semacam ini membuat siswa membangun pengetahuan lewat pengalaman dan refleksi (Firdaus, 2025).


Meski begitu, Kegiatan 3.1 pada dasarnya mengisi tabel cabang biologi dan Kegiatan 4.1 berhenti pada pengelompokan biotik-abiotik, sehingga condong ke hafalan "apa", belum ke "bagaimana pengetahuan diuji". Hakikat sains juga kurang tampak: sejarah biologi (hlm. 135) disajikan sebagai kronologi lurus tanpa perdebatan atau revisi teori, dan biologi disebut "ilmu paling tua di Bumi" (hlm. 133) tanpa rujukan pada halaman itu.


Satu catatan teknis: Kegiatan 3.2 hanya menghangatkan susu sampai 40 °C, sedangkan prosedur baku umumnya memanaskan lebih tinggi lalu mendinginkannya, sehingga guru perlu memverifikasinya.


Telaah Aksiologis: Nilai yang Hadir dan yang Timpang


Daftar isi menunjukkan bahwa Bab 3 membahas dampak positif dan negatif bioteknologi serta biomimikri, sementara Bab 5 memuat adaptasi, mitigasi, dan energi alternatif, sehingga siswa diarahkan pada aksi, bukan hanya kesadaran masalah. Soal Latihan 3.1 nomor 5 menjadikan sikap eksploitatif terhadap satwa sebagai pernyataan keliru. Ini sejalan dengan pendidikan untuk keberlanjutan dalam Firdaus (2025).


Akan tetapi, Bab 5 (hlm. 223) menyebut manusia sebagai makhluk hidup yang paling sempurna. Pandangan antroposentris ini kurang selaras dengan etika ekologis yang menempatkan empati pada makhluk hidup lain sebagai nilai inti. Pada halaman awal Bab 4 yang ditelaah, dimensi nilai juga belum menonjol di luar pertanyaan tentang menjaga keseimbangan.


Kelebihan, Kekurangan, dan Implikasi


Kelebihan: peta konsep dan pertanyaan pemantik menata cara berpikir sejak awal bab; ada observasi dan praktikum; soal bertingkat dengan lima bentuk asesmen; isu kontemporer disajikan kontekstual; bahasa runtut.


Kekurangan: sebagian kegiatan berfokus pada hafalan; hakikat sains kurang tampak; ada generalisasi dan klaim tanpa rujukan; pandangan antroposentris bertentangan dengan semangat etika ekologis buku sendiri; prosedur praktikum perlu diverifikasi.


Secara kurikuler, buku ini relevan sebagai pendamping Kurikulum Merdeka karena mengaitkan biologi dengan kehidupan nyata dan penguatan Profil Pelajar Pancasila, terutama lewat isu lingkungan dan bioteknologi yang dekat dengan siswa.


Bagi guru, buku ini sebaiknya tidak dipakai apa adanya: kegiatan berbasis tabel dapat dinaikkan menjadi inkuiri, dan soal bermasalah seperti Latihan 4.1 nomor 6 dapat dijadikan bahan diskusi kritis tentang batas generalisasi ilmiah. Bagi penulis dan penerbit, edisi berikutnya dapat memperkuat hakikat sains, merevisi kalimat antroposentris, dan mengintegrasikan nilai etis di setiap bab.


Penutup


Buku ini kuat sebagai pengantar yang runtut dan kontekstual, baik dalam ontologi relasional dan aksiologi keberlanjutan, tetapi perlu penguatan epistemologi, yaitu mengajak siswa mengalami bagaimana ilmu dibangun dan diuji. Buku ini layak dibaca guru biologi SMA, calon guru, dan mahasiswa pendidikan biologi, selama dibaca dengan kritis.


Daftar Pustaka


Firdaus, L. N. (2025). Filsafat pendidikan biologi: Dasar filosofis, epistemologis, dan aplikatif dalam pendidikan biologi. Yogyakarta: Deepublish.


Putra, R. E., & Kinasih, I. (2023). IPA-Biologi untuk siswa SMA-MA kelas 10. Bandung: Yrama Widya.

Also read
Copied!

Latest News

  • Biologi untuk Dipahami dan Dihayati, Bukan Sekadar Dihafal: Telaah Filosofis atas Buku IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10
  • Biologi untuk Dipahami dan Dihayati, Bukan Sekadar Dihafal: Telaah Filosofis atas Buku IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10
  • Biologi untuk Dipahami dan Dihayati, Bukan Sekadar Dihafal: Telaah Filosofis atas Buku IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10
  • Biologi untuk Dipahami dan Dihayati, Bukan Sekadar Dihafal: Telaah Filosofis atas Buku IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10
  • Biologi untuk Dipahami dan Dihayati, Bukan Sekadar Dihafal: Telaah Filosofis atas Buku IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10
  • Biologi untuk Dipahami dan Dihayati, Bukan Sekadar Dihafal: Telaah Filosofis atas Buku IPA-Biologi untuk Siswa SMA-MA Kelas 10

Post a Comment