KETIKA GAMBUT TERBAKAR, APA YANG DIPELAJARI ANAK RIAU?

Ditulis oleh : Dinda Rahmasari Aulia
Universitas Riau


Pedagogi Hijau Berbasis Ekosistem Gambut sebagai Strategi Sekolah Menghadapi Ancaman Karhutla


Bagi masyarakat Riau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar berita yang muncul setiap musim kemarau. Asap, lahan terbakar, terganggunya aktivitas masyarakat, hingga kekhawatiran terhadap kualitas udara merupakan pengalaman yang dapat berulang.


Karena itu, ketika kebakaran terjadi, pertanyaan penting seharusnya tidak berhenti pada bagaimana api dipadamkan, tetapi juga: apa yang dipelajari generasi muda agar risiko yang sama tidak terus berulang?



Pertanyaan tersebut semakin relevan pada 2026. Berdasarkan laporan BPBD Riau, hingga 27 September 2026, luas lahan terbakar di Provinsi Riau telah mencapai 20.597,23 hektare. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luas terbakar terbesar, yakni 8.569,25 hektare, disusul Kabupaten Pelalawan sebesar 6.710,21 hektare.


Pada tanggal yang sama, tidak terdapat lagi titik karhutla aktif yang sedang ditangani. Namun, pemerintah tetap melakukan pemantauan dan pencegahan, termasuk upaya membasahi lahan gambut melalui Operasi Modifikasi Cuaca.


Angka-angka tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai statistik kebencanaan. Bagi dunia pendidikan, data tersebut dapat menjadi bahan belajar yang nyata.


Siswa dapat diajak memahami bahwa di balik ribuan hektare lahan yang terbakar terdapat ekosistem, keanekaragaman hayati, cadangan karbon, tata air, serta kehidupan masyarakat yang ikut terdampak.


KARHUTLA TIDAK DIMULAI KETIKA API MUNCUL


Karhutla sering kali baru terlihat ketika api telah membesar. Padahal, risikonya dapat terbentuk jauh sebelumnya melalui kondisi lahan yang mengering, terganggunya tata air, cuaca, perubahan penggunaan lahan, maupun aktivitas manusia.


Karena itu, pendidikan tentang karhutla tidak seharusnya menunggu asap muncul.


Sekolah justru dapat menjadi ruang untuk membangun pengetahuan, kesadaran, dan kebiasaan pencegahan sejak dini.



Di sinilah pedagogi hijau memiliki peran penting.


Pedagogi hijau bukan sekadar kegiatan menanam pohon, membersihkan halaman sekolah, atau membuat lingkungan sekolah tampak hijau. Lebih dari itu, pendekatan ini menjadikan persoalan lingkungan sebagai bagian dari proses belajar dan mendorong siswa memahami hubungan antara manusia, lingkungan, pengambilan keputusan, serta keberlanjutan.


UNESCO mendorong pendidikan hijau yang berorientasi pada tindakan, relevan dengan konteks lokal, serta mengembangkan pengetahuan, kemampuan sosial-emosional, dan perilaku. Pendekatan tersebut juga dapat diterapkan secara lintas mata pelajaran dan jenjang pendidikan.


Bagi Riau, konteks lokal tersebut sangat jelas: ekosistem gambut dan ancaman karhutla.


DARI GAMBUT KE RUANG KELAS


Gambut tidak seharusnya hanya diperkenalkan kepada siswa sebagai tanah berwarna gelap.


Siswa perlu memahami bahwa gambut memiliki hubungan erat dengan penyimpanan karbon, tata air, keanekaragaman hayati, serta kondisi ekologis suatu wilayah. Ketika kondisi gambut mengalami perubahan dan menjadi terlalu kering, risiko kebakaran dapat meningkat.


Pembelajaran dapat dimulai dari pertanyaan sederhana:


Mengapa gambut perlu dijaga agar tetap basah?


Dari satu pertanyaan tersebut, pembelajaran dapat dikembangkan menjadi proyek lintas mata pelajaran.


Dalam Biologi, siswa dapat mempelajari ekosistem gambut dan dampak kebakaran terhadap flora dan fauna.


Dalam Geografi, siswa dapat membaca persebaran wilayah terdampak karhutla.


Dalam Matematika, data luas lahan terbakar dapat diolah menjadi tabel, persentase, dan grafik.


Dalam Bahasa Indonesia, siswa dapat belajar menulis berita, artikel, atau laporan lingkungan.


Sementara dalam Informatika, siswa dapat membuat infografis, peta sederhana, maupun visualisasi data.


Dengan demikian, karhutla tidak lagi menjadi materi yang sekadar dihafalkan. Karhutla berubah menjadi persoalan nyata yang dipelajari melalui berbagai sudut ilmu.


Data semester pertama 2026 bahkan menunjukkan bahwa persoalan tersebut sangat relevan. Kementerian Kehutanan bersama BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup mencatat luas kebakaran di Riau mencapai 15.477,9 hektare pada Januari–Juni 2026, berdasarkan analisis citra satelit.


Data tersebut bukan sekadar angka. Ia dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami kondisi lingkungan daerah sendiri.


SEKOLAH LABORATORIUM GAMBUT


Dari konteks tersebut, sekolah dapat mengembangkan gagasan “Sekolah Laboratorium Gambut”.


Sekolah tidak harus berada tepat di kawasan gambut. Konsep ini lebih menekankan bagaimana lingkungan dan data Riau dijadikan sebagai sumber belajar.


Program dapat dimulai secara sederhana.


Siswa mengenali karakteristik gambut, membaca data karhutla, membuat grafik, mengamati lingkungan sekolah, kemudian menyusun kampanye pencegahan.


Sekolah juga dapat membuat “Rapor Lingkungan Sekolah” yang mencatat penggunaan air, kondisi vegetasi, ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah, serta perubahan lingkungan dari waktu ke waktu.


Data sederhana tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekolah sekaligus media pembelajaran bagi siswa.


Pada tahap berikutnya, siswa dapat membuat papan informasi digital bertema “Riau Hari Ini” yang memuat data karhutla dari sumber resmi, kondisi cuaca, serta pesan-pesan pencegahan.


Kegiatan ini sekaligus dapat memperkuat literasi digital agar siswa tidak mudah mempercayai informasi mengenai lingkungan yang belum terverifikasi.


Konsep tersebut sejalan dengan pandangan UNESCO bahwa sekolah hijau tidak cukup hanya memiliki lingkungan fisik yang ramah lingkungan. Prinsip keberlanjutan juga perlu masuk ke dalam tata kelola sekolah, fasilitas dan operasional, proses pembelajaran, serta keterlibatan masyarakat.


DARI TAHU, PEDULI, HINGGA BERTINDAK


Pedagogi hijau dapat dibangun melalui tiga tahapan sederhana:


Tahu. Peduli. Bertindak.


Pertama, siswa mengetahui bagaimana ekosistem gambut bekerja dan mengapa karhutla dapat terjadi.


Kedua, siswa memahami bahwa karhutla bukan sekadar angka dalam berita, tetapi dapat memengaruhi lingkungan, kesehatan masyarakat, perekonomian, aktivitas sekolah, serta kehidupan sehari-hari.


Ketiga, siswa melakukan tindakan yang aman dan sesuai usia, seperti membuat kampanye lingkungan, mengolah data, menjaga lingkungan sekolah, serta menyampaikan informasi yang benar kepada keluarga dan masyarakat sekitar.


Yang tidak kalah penting, siswa tidak ditempatkan sebagai “pemadam kebakaran kecil”.


Penanganan kebakaran merupakan tugas petugas dan pihak yang berwenang. Peran siswa adalah membangun pengetahuan, kepedulian, literasi, dan perilaku pencegahan.


TANTANGAN DAN HARAPAN


Penerapan pedagogi hijau tentu tidak tanpa tantangan.


Guru membutuhkan pengetahuan dan sumber belajar yang memadai. Sekolah juga menghadapi keterbatasan waktu, fasilitas, serta risiko kegiatan lingkungan berubah menjadi sekadar kegiatan seremonial.


Namun, pedagogi hijau tidak harus dimulai dengan program yang mahal.


Satu data karhutla dapat menjadi bahan pembelajaran.


Satu grafik dapat menjadi latihan literasi data.


Satu pengamatan lingkungan dapat menjadi proyek Biologi.


Satu tulisan dapat menjadi latihan jurnalistik lingkungan.


Dan satu kampanye sederhana dapat menjadi awal percakapan antara siswa dan keluarganya.


Harapannya, sekolah-sekolah di Riau tidak hanya menjadi sekolah yang hijau secara fisik, tetapi juga menjadi sekolah yang memahami lingkungan tempat mereka berada.


Sebab, ketika api padam, pendidikan tidak boleh ikut padam.


Karhutla mungkin dapat ditangani dalam hitungan hari atau minggu. Namun, membangun generasi yang mampu memahami, mencegah, dan mengurangi risikonya membutuhkan waktu bertahun-tahun.


Karena itu, pendidikan merupakan bagian penting dari upaya jangka panjang menghadapi karhutla.


Memadamkan api adalah pekerjaan ketika bencana terjadi.


Membangun generasi yang mampu mencegah risikonya adalah pekerjaan pendidikan.


Dari gambut kita belajar.

Dari data kita memahami.


Dari sekolah kita membangun perubahan.

Also read
Copied!

Latest News

  • KETIKA GAMBUT TERBAKAR, APA YANG DIPELAJARI ANAK RIAU?
  • KETIKA GAMBUT TERBAKAR, APA YANG DIPELAJARI ANAK RIAU?
  • KETIKA GAMBUT TERBAKAR, APA YANG DIPELAJARI ANAK RIAU?
  • KETIKA GAMBUT TERBAKAR, APA YANG DIPELAJARI ANAK RIAU?
  • KETIKA GAMBUT TERBAKAR, APA YANG DIPELAJARI ANAK RIAU?
  • KETIKA GAMBUT TERBAKAR, APA YANG DIPELAJARI ANAK RIAU?

Post a Comment