Ketika Layar Digital Menjadi Guru Generasi Muda



Oleh: Zulkifli, S.Sos.I., M.Pd. (Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo)


PORTALBUANANEW.COM — Perubahan zaman tidak pernah bisa dihentikan. Teknologi terus berkembang, media sosial menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, dan setiap orang kini memiliki ruang untuk berbicara, berekspresi, sekaligus menampilkan dirinya kepada publik.

Di satu sisi, perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Pengetahuan semakin mudah diakses. Kreativitas dapat dipublikasikan tanpa harus menunggu ruang dan panggung konvensional.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan: bagaimana memastikan ruang digital tidak berubah menjadi tempat yang perlahan mengikis nilai, etika, dan karakter generasi muda?

Pertanyaan ini penting karena generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka bukan hanya belajar dari keluarga, sekolah, guru, buku, dan lingkungan masyarakat, tetapi juga dari layar yang hampir selalu berada di tangan mereka.

Tantangan bagi Generasi Muda Indonesia

Fenomena di media sosial menunjukkan bahwa tidak semua konten dibuat untuk memberikan manfaat. Sebagian konten justru diproduksi demi mengejar perhatian, jumlah penonton, pengikut, dan popularitas.

Demi mendapatkan perhatian publik, ada yang rela menampilkan perilaku berlebihan, menggunakan bahasa kasar, mempertontonkan tindakan tidak pantas, bahkan menjadikan perilaku berisiko sebagai hiburan.

Sesuatu yang dahulu dianggap tidak layak dipertontonkan, kini dapat berubah menjadi tontonan banyak orang hanya dalam waktu singkat.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: jika anak-anak dan generasi muda setiap hari melihat konten semacam itu, siapa yang akan menjadi teladan mereka?

Apakah kita ingin mereka tumbuh dengan anggapan bahwa popularitas lebih penting daripada akhlak? Bahwa viral lebih berharga daripada prestasi? Atau bahwa sensasi lebih cepat membawa kesuksesan daripada kerja keras, ilmu pengetahuan, dan integritas?

Tentu bukan itu yang kita harapkan.

Generasi muda Indonesia membutuhkan ruang tumbuh yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk karakter. Sebab, kecakapan menggunakan teknologi tanpa dibarengi kecakapan menjaga adab dapat menjadi persoalan tersendiri.

Ketika Layar Menjadi Guru

Dahulu, pendidikan karakter banyak dibentuk melalui keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, tempat ibadah, dan berbagai ruang sosial lainnya. Kini, ada satu ruang tambahan yang pengaruhnya semakin kuat yakni dunia digital.

Anak-anak dan remaja dapat menghabiskan waktu berjam-jam dengan berbagai konten yang muncul melalui gawai mereka. Apa yang mereka lihat berulang kali berpotensi membentuk kebiasaan, cara berpikir, bahkan cara memandang kehidupan.

Algoritma media sosial juga membuat seseorang semakin sering bertemu dengan konten yang sesuai dengan pola interaksinya.

Karena itu, kita perlu mengajarkan satu prinsip sederhana kepada generasi muda: tidak semua yang viral layak ditiru, tidak semua yang populer berarti benar, dan tidak semua yang banyak disukai memiliki nilai positif.

Kemampuan memilih dan menyaring informasi menjadi bagian penting dari kecakapan hidup di era digital.

Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan seseorang bagaimana menggunakan teknologi. Lebih dari itu, literasi digital harus membentuk kemampuan untuk berpikir kritis, memahami konsekuensi dari sebuah unggahan, menghargai orang lain, menjaga privasi, serta bertanggung jawab atas apa yang dibagikan kepada publik.

Orang Tua Tidak Boleh Menyerah

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, orang tua memiliki posisi yang sangat penting.

Mengawasi penggunaan media sosial bukan berarti mematikan kreativitas anak. Sebaliknya, pendampingan justru diperlukan agar anak mampu menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

Orang tua perlu hadir sebagai teman berdiskusi. Anak perlu diajak memahami bahwa jumlah pengikut bukan ukuran keberhasilan seseorang. Banyaknya penonton bukan jaminan bahwa sebuah konten memiliki nilai. Popularitas juga tidak boleh dibayar dengan hilangnya prinsip dan harga diri.

Yang lebih penting, anak perlu belajar membedakan antara menjadi terkenal dan menjadi berarti.

Menjadi terkenal mungkin mendatangkan perhatian. Tetapi menjadi manusia yang bermanfaat membutuhkan proses, ketekunan, ilmu, akhlak, dan tanggung jawab.

Sekolah dan Pendidikan Adab Digital

Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar. Pendidikan di era digital tidak cukup hanya mengejar kemampuan akademik dan penguasaan teknologi.

Peserta didik perlu dibekali pendidikan karakter dan etika digital.

Mereka perlu memahami bahwa sebuah unggahan dapat memiliki dampak yang panjang. Kalimat yang ditulis dengan tergesa-gesa dapat melukai orang lain. Foto yang dibagikan tanpa pertimbangan dapat menimbulkan persoalan. Komentar yang dianggap sebagai candaan dapat menjadi bentuk penghinaan bagi orang lain.

Karena itu, sekolah perlu membangun budaya digital yang sehat.

Guru bukan hanya mengajarkan bagaimana teknologi digunakan, tetapi juga bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, menyebarkan kebaikan, dan membangun prestasi.

Dengan demikian, teknologi tidak menjadi lawan pendidikan, tetapi menjadi alat yang memperkuat tujuan pendidikan.

Mengembalikan Ruang Digital yang Sehat

Sesungguhnya, persoalan terbesar bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya.

Media sosial dapat menjadi ruang yang luar biasa untuk pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, promosi budaya, kreativitas, kewirausahaan, dan penyebaran inspirasi.

Tidak sedikit anak muda yang mampu memanfaatkan ruang digital untuk menunjukkan karya dan prestasi mereka. Karena itu, kita tidak boleh hanya melihat sisi negatif media sosial.

Yang diperlukan adalah keberanian untuk ikut menentukan seperti apa ruang digital yang ingin kita bangun.

Kita dapat memulainya dari hal sederhana: tidak ikut menyebarkan konten yang hanya mengejar sensasi, tidak memberikan perhatian berlebihan kepada perilaku yang tidak patut diteladani, serta menggunakan fitur seperti mute, block, atau report terhadap konten yang melanggar aturan platform atau tidak pantas dikonsumsi anak-anak.

Sebaliknya, kita perlu memperbanyak dukungan terhadap konten yang membangun.

Konten tentang pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya Indonesia, kreativitas anak muda, kesehatan, kewirausahaan, prestasi, keteladanan, dan kisah inspiratif perlu mendapatkan ruang yang lebih luas.

Sebab, ruang digital pada akhirnya juga dibentuk oleh perilaku penggunanya.

Apa yang kita tonton, sukai, bagikan, dan komentari turut menentukan konten seperti apa yang akan terus mendapatkan perhatian.

Menyelamatkan Adab Bersama

Menjaga generasi muda bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga pendidikan. Ini merupakan tanggung jawab bersama.

Keluarga, sekolah, masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya, komunitas, dan setiap pengguna media sosial memiliki peran masing-masing.

Kita tentu ingin generasi muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, berprestasi, berkarakter, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kemajuan moral.

Jangan sampai kita melahirkan generasi yang sangat mahir menggunakan teknologi, tetapi kehilangan kemampuan membedakan mana yang pantas dan tidak pantas. Jangan sampai mereka memiliki ribuan pengikut, tetapi kehilangan arah. Jangan sampai mereka mampu berbicara kepada jutaan orang di ruang digital, tetapi lupa bagaimana menghormati orang lain di dunia nyata.

Pada akhirnya, masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka pelajari di sekolah, tetapi juga oleh apa yang mereka lihat, dengar, dan konsumsi setiap hari.

Karena itu, menyelamatkan adab generasi digital bukan berarti memusuhi teknologi. Justru sebaliknya, kita harus mengajarkan generasi muda agar mampu bersahabat dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri.

Mari menjadikan ruang digital sebagai ruang untuk mencerdaskan, menginspirasi, berkarya, dan menyebarkan kebaikan.

Sebab, teknologi hanyalah alat. Arah masa depan generasi tetap ditentukan oleh nilai yang kita tanamkan dan teladan yang kita hadirkan.


*Ditulis ulang oleh : Zulkifli

Disadur dari tulisan Mahmud Aditya Rifqi, Dosen dan perantau Minang.

Also read
Copied!

Latest News

  • Ketika Layar Digital Menjadi Guru Generasi Muda
  • Ketika Layar Digital Menjadi Guru Generasi Muda
  • Ketika Layar Digital Menjadi Guru Generasi Muda
  • Ketika Layar Digital Menjadi Guru Generasi Muda
  • Ketika Layar Digital Menjadi Guru Generasi Muda
  • Ketika Layar Digital Menjadi Guru Generasi Muda

Post a Comment