Jakarta, 15 Januari 2026 — Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan global setelah beredar klaim bahwa Washington “terlibat dalam memicu kerusuhan” di Iran dan berupaya menciptakan skenario kudeta terhadap pemerintahan yang berkuasa di Teheran. Tuduhan ini mencuat di tengah gelombang protes besar-besaran yang telah berkecamuk di Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut laporan yang beredar, kelompok yang mempublikasikan informasi tersebut mengklaim bahwa AS secara diam-diam mendorong aksi unjuk rasa untuk melemahkan rezim Iran dan membuka jalan bagi perubahan politik yang signifikan. Tuduhan ini menimbulkan kehebohan diplomatik karena hubungan antara Washington dan Teheran selama ini tegang.
Namun, sumber resmi dari AS belum memberikan pernyataan langsung yang mengonfirmasi keterlibatan tersebut. Sementara itu, Iran telah berulang kali menuding negara-negara Barat, terutama AS, ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka. Pemerintah Iran bahkan menyebut aksi protes ini sebagai upaya destabilisasi yang didukung dari luar negeri.
Gelombang demonstrasi di Iran sendiri awalnya dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk, termasuk inflasi tinggi dan anjloknya nilai mata uang nasional. Protes yang berakhir dengan bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa ini kemudian meningkat menjadi tantangan yang lebih luas terhadap rezim yang telah berkuasa lama.
Di panggung internasional, AS justru mengambil langkah tegas terhadap pemerintah Iran dengan memberlakukan sanksi terhadap sejumlah pejabat senior dan lembaga yang dianggap terlibat dalam penindakan keras terhadap para pengunjuk rasa. Keputusan ini diumumkan sebagai bentuk dukungan Washington terhadap hak asasi dan kebebasan sipil warga Iran.
Pada saat yang sama, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), wakil AS menegaskan bahwa pemerintahan Presiden AS mendukung langkah damai dan dibukanya ruang dialog bagi rakyat Iran. Namun, Iran menolak berbagai tuduhan itu dan memperingatkan akan bereaksi keras terhadap setiap bentuk agresi terhadap kedaulatan mereka.
Ke depan, narasi mengenai keterlibatan Washington dalam konflik Iran semakin memperumit hubungan kedua negara dan berpotensi berdampak pada politik regional di Timur Tengah, termasuk dinamika kebijakan luar negeri negara-negara besar dunia.
0Comments