Oleh: SUDIRMAN CHAN
Mata saya tidak sakit. Hanya terasa sepet,
sedikit perih, dan cepat lelah. Kalimat itu mungkin terdengar sangat
biasa—bahkan terlalu biasa untuk dipermasalahkan. Saya yakin, banyak orang
pernah merasakannya. Lalu kita menganggapnya wajar, menutup layar sejenak,
mengucek mata, dan kembali melanjutkan aktivitas.
Tanpa sadar, di situlah masalah bermula.
Gejala yang terasa ringan itu ternyata
memiliki nama: mata kering. Dan yang lebih mengejutkan, kondisi ini dialami
oleh begitu banyak orang, terutama mereka yang hidup di perkotaan.
Data menunjukkan, prevalensi mata kering di Jakarta dan Bandung
mencapai 41 persen.
Artinya,
hampir separuh masyarakat di dua kota besar ini berpotensi mengalami mata
kering—banyak di antaranya tidak
menyadari bahwa keluhan yang
mereka rasakan adalah masalah kesehatan mata.
Mata Kering: Masalah Global yang Kerap Tak
Disadari
Secara global, mata kering bukan isu kecil.
World Health Organization (WHO) dalam World
Report on Vision mencatat bahwa
prevalensi mata kering di dunia berkisar antara 5 hingga 50 persen, tergantung wilayah dan metode diagnosis. WHO
juga menekankan bahwa mata kering merupakan kondisi yang sering tidak terdiagnosis dan kurang ditangani, meskipun berdampak nyata pada kualitas hidup.
Mata kering terjadi ketika mata tidak
menghasilkan cukup air mata, atau kualitas air mata menurun sehingga gagal
melindungi dan melumasi permukaan mata. Dampaknya bukan hanya rasa tidak
nyaman, tetapi juga gangguan fungsi visual.
“Banyak
pasien datang dengan keluhan mata perih dan cepat lelah, tapi tidak sadar bahwa
itu mata kering,” ujar dr. Andi
Pratama, SpM, dokter spesialis
mata.
Menurutnya, mata kering sering luput dari
perhatian karena gejalanya tidak selalu terasa berat di awal.
Gaya Hidup Digital dan Mata yang Dipaksa
Bertahan
Kehidupan modern membuat mata bekerja lebih
keras dari sebelumnya. Pekerjaan, hiburan, hingga komunikasi kini bertumpu pada
layar digital. Tanpa disadari, kebiasaan ini berdampak langsung pada kesehatan
mata.
“Saat
menatap layar, frekuensi berkedip bisa menurun drastis. Padahal berkedip
penting untuk menyebarkan air mata,” jelas dr. Andi.
Dalam kondisi normal, manusia berkedip
sekitar 15–20 kali per menit. Saat fokus menatap layar, jumlah itu bisa turun
hingga setengahnya. Akibatnya, permukaan mata lebih cepat mengering, terlebih
jika berada di ruangan ber-AC, terpapar polusi, atau kurang minum air.
SePeLe: Gejala Kecil yang Terlalu Sering
Diabaikan
Istilah SePeLe—sepet, perih, dan lelah—terdengar ringan. Namun justru karena terdengar
sepele, gejala ini sering diabaikan.
Mata sepet terasa berat dan tidak nyaman.
Mata perih muncul akibat iritasi pada permukaan mata. Mata lelah ditandai
dengan sulit fokus dan penglihatan buram sementara. Jika ketiganya muncul
berulang, itu bukan lagi keluhan biasa.
“Kalau
gejala ini terus muncul, itu tanda ada gangguan pada permukaan mata,” tegas dr.
Andi.
Jika dibiarkan, mata kering dapat
berkembang menjadi peradangan kronis, menurunkan kualitas penglihatan, dan
berdampak pada produktivitas sehari-hari.
Mata Berair Bukan Jaminan Mata Sehat
Banyak orang mengira mata berair adalah
tanda mata sehat. Faktanya, kondisi ini justru bisa menjadi reaksi refleks
akibat mata yang terlalu kering.
Air mata yang keluar berlebihan ini
kualitasnya buruk dan tidak mampu melumasi mata dengan baik.
Akibatnya, rasa
perih dan tidak nyaman tetap muncul meski mata terlihat basah.
Inilah salah satu alasan mengapa mata
kering sering tidak disadari.
Dampak Nyata pada Produktivitas dan
Kualitas Hidup.
WHO menegaskan bahwa gangguan penglihatan,
termasuk mata kering, berdampak besar pada kualitas hidup. Mata yang tidak
nyaman membuat konsentrasi menurun, aktivitas terasa lebih melelahkan, dan
risiko kesalahan meningkat.
“Pasien
yang pekerjaannya banyak di depan layar sering merasa cepat lelah dan sulit
fokus. Setelah mata keringnya ditangani, keluhan itu berkurang,” kata dr. Andi.
Mata kering bukan hanya soal mata, tetapi
juga tentang bagaimana seseorang menjalani aktivitas hariannya.
Edukasi: Kunci Bebas Mata SePeLe
Masalah terbesar mata kering bukan hanya
kondisi medisnya, melainkan rendahnya
kesadaran. Banyak orang baru
mencari bantuan saat keluhan sudah cukup mengganggu.
Padahal, mengenali gejala sejak dini adalah
langkah paling penting. Mata sepet, perih, dan lelah bukan sekadar tanda capek,
melainkan sinyal tubuh yang perlu diperhatikan.
“Mata tidak bisa bicara, tapi ia memberi
tanda. Kita hanya perlu belajar mendengarkannya,” ujar dr. Andi.
Langkah Sederhana yang Sering Terlupakan
Menjaga kesehatan mata tidak selalu rumit.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu:
·
- Mengistirahatkan mata secara berkala dari layar · Menerapkan aturan 20-20-20 ·
- Menjaga pencahayaan dan jarak pandang ·
- Minum air yang cukup ·
- Namun, dalam ritme kerja modern, kebiasaan ideal ini sering sulit dilakukan secara konsisten.
INSTO Dry Eyes sebagai Pendamping Perawatan
Mata
Dalam penanganan mata kering, tetes mata
menjadi salah satu solusi pendamping. INSTO
Dry Eyes hadir untuk membantu
melembapkan mata dan meredakan gejala SePeLe akibat kurangnya pelumasan alami.
“Tetes
mata dapat membantu menjaga kenyamanan mata, terutama pada orang dengan
aktivitas visual tinggi,” jelas dr. Andi.
Penggunaannya bukan untuk menggantikan gaya
hidup sehat, melainkan melengkapi upaya menjaga kesehatan mata sehari-hari.
Bebas Mata SePeLe Bukan Sekadar Slogan
Kampanye
“Bebas Mata SePeLe”
mengajak kita untuk berhenti meremehkan sinyal kecil dari mata. Karena mata
yang nyaman bukan hanya soal melihat lebih jelas, tetapi juga tentang hidup
yang lebih produktif dan berkualitas.
Ketika mata mulai terasa sepet, perih, dan
lelah, mungkin itu bukan tanda untuk mengabaikan—melainkan tanda untuk peduli.
0Comments