GpzpTpr8TSY6GSApGfO5GSAoBY==
Light Dark
Ketika Tahu Tidak Sama dengan Mengerti

Ketika Tahu Tidak Sama dengan Mengerti

Table of contents
×


Kita hidup di zaman yang penuh pengetahuan. Informasi tersedia di ujung jari, jawaban bisa dicari dalam hitungan detik, dan istilah “tahu” terasa semakin murah. Namun di balik limpahan itu, ada satu pertanyaan penting yang jarang diajukan: apakah tahu berarti mengerti?

Banyak dari kita merasa paham hanya karena sudah membaca, mendengar, atau menonton. Padahal, dalam kehidupan nyata, perbedaan antara tahu dan mengerti sering kali menentukan kualitas keputusan, sikap, bahkan kebijaksanaan seseorang.

Tahu: Pengetahuan di Permukaan

“Tahu” biasanya berkaitan dengan fakta. Kita tahu tanggal, tahu definisi, tahu teori, tahu berita terbaru. Pengetahuan jenis ini penting, tetapi sifatnya eksternal. Ia berada di luar diri kita dan bisa dipindahkan dengan cepat dari satu kepala ke kepala lain.

Seseorang bisa tahu bahwa merokok berbahaya, tetapi tetap merokok. Bisa tahu bahwa tidur cukup itu penting, namun terus begadang. Bisa tahu bahwa hoaks merusak, tetapi masih ikut menyebarkannya.

Masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada ketiadaan pemahaman yang mendalam.

Mengerti: Ketika Pengetahuan Menyentuh Kesadaran

“Mengerti” adalah pengetahuan yang telah melewati proses refleksi. Ia tidak hanya disimpan, tetapi diolah, dipertanyakan, dan dihubungkan dengan pengalaman hidup. Mengerti membuat seseorang berubah, bukan sekadar menambah isi kepala.

Orang yang mengerti bahaya merokok bukan hanya hafal dampaknya, tetapi merasakan konsekuensinya, memahami mekanismenya, dan akhirnya mengambil sikap. Mengerti melibatkan kesadaran, empati, dan tanggung jawab.

Inilah alasan mengapa dua orang dengan pengetahuan yang sama bisa bersikap sangat berbeda.

Ilusi Pengetahuan di Era Digital

Di era digital, kita mudah terjebak dalam ilusi pengetahuan. Membaca satu utas, menonton satu video, atau mengutip satu kalimat sering dianggap cukup untuk merasa paham.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai illusion of explanatory depth—kecenderungan manusia merasa mengerti sesuatu lebih dalam daripada kenyataannya. Kita baru sadar betapa dangkal pemahaman kita ketika diminta menjelaskan dengan sungguh-sungguh.

Media sosial memperparah ilusi ini. Opini sering disamakan dengan pemahaman, dan kecepatan merespons dianggap kecerdasan.

Mengerti Butuh Waktu dan Kerendahan Hati

Berbeda dengan tahu, mengerti tidak bisa instan. Ia menuntut:

  • Kesediaan untuk ragu
  • Keberanian mengakui ketidaktahuan
  • Kesabaran untuk belajar ulang

Socrates terkenal dengan ucapannya, “Aku tahu bahwa aku tidak tahu.” Kalimat ini bukan sikap pesimis, melainkan fondasi pemahaman sejati. Kesadaran akan keterbatasan diri membuka ruang bagi pembelajaran yang jujur.

Orang yang merasa sudah tahu segalanya justru menutup pintu untuk mengerti.

Pengetahuan yang Tidak Mengubah Apa-Apa

Salah satu tanda bahwa pengetahuan belum menjadi pemahaman adalah ketika ia tidak memengaruhi perilaku. Kita bisa tahu banyak hal tentang etika, empati, dan keadilan, tetapi tetap bersikap sebaliknya.

Mengerti selalu berdampak. Ia mungkin tidak langsung mengubah dunia, tetapi setidaknya mengubah cara seseorang memandang dan memperlakukan sesama.

Belajar Mengerti, Bukan Sekadar Tahu

Mengerti bukan berarti harus selalu sepakat, tetapi mau mendengarkan. Bukan berarti harus selalu benar, tetapi siap merevisi pandangan. Bukan berarti harus berbicara paling keras, tetapi tahu kapan harus diam.

Di tengah banjir informasi hari ini, tantangan terbesar manusia bukan lagi mencari pengetahuan, melainkan mengolahnya menjadi pemahaman.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah yang kita miliki selama ini benar-benar pemahaman, atau hanya kumpulan hal yang kita tahu?

Karena pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang yang tahu, tetapi sangat membutuhkan manusia yang mengerti.


0Comments