GpzpTpr8TSY6GSApGfO5GSAoBY==
Light Dark
Wafat dalam Keadaan Sakit: Ujian, Rahmat, dan Jalan Menuju Ampunan Allah

Wafat dalam Keadaan Sakit: Ujian, Rahmat, dan Jalan Menuju Ampunan Allah

Table of contents
×
Dalam kehidupan, sakit sering dipandang sebagai penderitaan yang melemahkan fisik dan batin. Namun dalam pandangan Islam, sakit bukan sekadar cobaan yang menyakitkan, melainkan rahmat yang tersembunyi, ujian keimanan, serta sarana penghapus dosa. Terlebih bagi seorang muslim yang wafat dalam keadaan sakit, Islam memberikan pandangan yang penuh harapan dan kasih sayang dari Allah SWT.

Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

Allah SWT tidak pernah menimpakan cobaan tanpa hikmah. Sakit menjadi cara Allah mendekatkan hamba-Nya kepada-Nya. Dalam kondisi sakit, manusia sering kali menjadi lebih sadar akan kelemahan dirinya dan lebih bergantung kepada Allah.

Rasulullah ï·º bersabda:

> “Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa lelah, sakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap rasa sakit yang dialami seorang mukmin tidaklah sia-sia. Ia menjadi penebus dosa dan pembersih jiwa.

Ujian Kesabaran dan Keimanan

Sakit juga merupakan ujian kesabaran. Allah SWT berfirman:

> “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Orang yang mampu bersabar saat sakit, tidak berkeluh kesah berlebihan, serta tetap menjaga shalat dan dzikir, akan mendapatkan kabar gembira dari Allah. Kesabaran itulah yang meninggikan derajatnya di sisi-Nya.

Pahala yang Tetap Mengalir

Islam adalah agama yang penuh keadilan dan kasih. Rasulullah ï·º bersabda:

> “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dicatat baginya pahala seperti apa yang biasa ia lakukan ketika sehat dan bermukim.”
(HR. Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa amal kebaikan yang biasa dilakukan seseorang tidak terputus hanya karena sakit. Bahkan jika ia wafat dalam kondisi tersebut, pahala amalnya tetap mengalir sesuai kebiasaan baiknya semasa sehat.

Wafat dalam Sakit Bukan Tanda Azab

Sebagian orang memandang kematian dalam sakit sebagai tanda azab. Pandangan ini keliru. Dalam Islam, wafat karena sakit bukanlah tanda murka Allah, melainkan bisa menjadi bentuk rahmat dan penghapusan dosa, selama seseorang wafat dalam keadaan beriman dan bertawakal kepada Allah SWT.

Banyak ulama menjelaskan bahwa sakit menjelang wafat sering menjadi kesempatan terakhir untuk bertaubat, memperbanyak dzikir, serta menyempurnakan keikhlasan kepada Allah.

Harapan Husnul Khatimah

Wafat dalam keadaan sakit sering kali membuka pintu menuju husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik. Dalam kondisi lemah, seorang hamba lebih mudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, memohon ampunan, dan berharap rahmat-Nya.

Peran Keluarga yang Ditinggalkan

Bagi keluarga yang ditinggalkan, Islam mengajarkan sikap sabar dan ridha atas ketetapan Allah. Doa, sedekah, dan amal jariyah atas nama almarhum menjadi bentuk kasih sayang yang terus mengalir hingga akhirat.

Penutup

Wafat dalam keadaan sakit bukanlah aib, bukan pula hukuman. Ia adalah jalan menuju pengampunan dan rahmat Allah, bagi hamba yang bersabar dan beriman. Semoga setiap muslim yang wafat dalam keadaan sakit diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

by : Sudirman Chan

0Comments