GpzpTpr8TSY6GSApGfO5GSAoBY==
Light Dark
Memaknai Puasa Melampaui Lapar dan Haus

Memaknai Puasa Melampaui Lapar dan Haus

Table of contents
×
Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP
Akademisi UIN STS Jambi


Puasa kerap dipahami sebatas kewajiban ritual individual antara manusia dan Tuhan. Pemahaman ini membuat puasa seolah selesai pada kepatuhan pribadi. Padahal, puasa bukan hanya praktik spiritual, tetapi juga sarana pembentukan disiplin diri yang berdampak sosial.

Dalam tafsir klasik, para ulama menegaskan dimensi moral puasa. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan melalui pengendalian hawa nafsu. Sementara Al-Qurthubi menekankan bahwa takwa tidak berhenti pada ibadah formal, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan perilaku dari perbuatan tercela.

Penegasan tersebut diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa banyak orang berpuasa, namun hanya memperoleh lapar dan haus. Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki dimensi lahiriah dan batiniah. Secara hukum, puasa sah jika memenuhi syarat. Namun secara spiritual, puasa baru bernilai jika melahirkan perubahan moral.

Dalam perspektif maqashid al-syari’ah, puasa berfungsi sebagai sarana penjagaan diri dan pembentukan karakter. Ia melatih kemampuan mengendalikan dorongan sesaat atau self-regulation. Tanpa kemampuan ini, individu mudah terjebak dalam perilaku impulsif yang berdampak negatif dalam kehidupan sosial.

Permasalahan muncul ketika puasa direduksi menjadi simbol identitas dan rutinitas formal semata. Sahur, imsak, dan berbuka dijalani tanpa pendalaman makna. Keberhasilan puasa lebih diukur secara kuantitatif daripada kualitatif. Padahal, indikator utama puasa adalah tercermin dalam sikap jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Jika setelah berpuasa seseorang masih mengabaikan nilai kejujuran dan keadilan, maka puasanya hanya sah secara fikih, tetapi gagal secara etis. Kondisi ini semakin terlihat dalam masyarakat konsumtif, di mana bulan Ramadan justru diiringi peningkatan konsumsi dan komersialisasi. Nilai pengendalian diri bertabrakan dengan logika pasar yang mendorong gaya hidup berlebihan.

Sesungguhnya, esensi puasa terletak pada transformasi karakter yang berkelanjutan. Puasa membentuk struktur batin yang mampu menahan, menimbang, dan mengarahkan dorongan diri. Ia bukan sekadar pembatasan fisik, tetapi proses internalisasi nilai moral.

Transformasi yang diharapkan bukan perubahan sesaat, melainkan pembentukan kesadaran etis yang stabil. Puasa melatih manusia untuk tetap menjaga integritas meski tanpa pengawasan eksternal.

Pada akhirnya, pertanyaan utama tentang puasa bukan sekadar apakah kewajiban itu dijalankan, tetapi apakah puasa melahirkan ketakwaan substantif. Jika tidak, sebagaimana peringatan Nabi, yang tersisa hanyalah lapar dan haus, tanpa daya transformatif bagi kehidupan.


Sumber      : Diskominfo Provinsi Jambi

Wartawan  : RK/RL

0Comments